Mengapa Kita Harus Bersatu
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (Ali Imran: 103)
Bersatu Mentaati Allah dan Rasul-Nya
Setelah memerintahkan untuk bertaqwa pada
ayat sebelumnya Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam
mentaati ajaran-Nya. Allah berfirman wa’tashimuu bihablillahi jamii’an
artinya berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah. Maksud tali
Allah di sini adalah ajaran-Nya berupa Al-Qur’an dan Sunnah (baca:
Islam). Di sini nampak bahwa bersatu mentaati ajaran Allah adalah
refleksi ketakwaan, dengan kata lain takwa tidak akan tercapai bila
seseorang tidak bersungguh-sungguh bersatu seirama menjalankan
kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Perhatikan redaksi perintah pada
kata wa’tashimuu, (bukan redaksi berita) mengapa? Ini menunjukkan
pentingnya ajaran tersebut, bahwa umat Islam tidak akan pernah mencapai
kejayaannya jika tidak satu barisan menegakkan ajaran Allah.
Kata
hablullah artinya ajaran Allah dan Rasul-Nya. Maka hanya dengan
mengikuti Allah dan Rasul-Nya persatuan umat Islam akan tercapai. Apapun
organisasinya, jika seseorang benar-benar memahami maksud risalah dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah ia tidak akan membangun permusuhan, apalagi
antar sesama umat Islam. Sebab persatuan adalah unsur utama bagi
tegaknya alam semesta dan kehidupan di muka bumi. Perhatikan Allah
menggambarkan kerapian ciptaannya di langit dan di bumi, “(Dialah Allah)
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali
tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang
tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu
akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itupun dalam keadaan payah” (Al-Mulk: 3-4). Ini
menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun dari ciptaan Allah yang tidak
bersinergi. Semuanya bersatu dalam satu sistem dan bergerak secara
kompak sehingga darinya berlangsung kehidupan di muka bumi. Sungguh
seandainya masing-masing wujud di alam ini tidak bersinergi, bisa
dipastikan bahwa ia sudah musnah sejak ratusan yang silam.
Benar,
persatuan adalah inti keberlangsungan hidup di muka bumi. Karenanya
Allah memerintahkan agar manusia bersatu. Tetapi tidak ada persatuan
yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh kepada tali ajaran-Nya. Selain
tali Allah pasti tali setan dan hawa nafsu. Maka segala bentuk
perkumpulan yang tidak berpegang pada tali Allah adalah perkumpulan
jahiliyah yang penuh permusuhan. Dari saking pentingnya hakikat
persatuan di atas tali Allah, Allah swt. pada ayat berikutnya
mempertegas kembali dengan berfirman, “Walaa tafarraquu” (dan jangan kau
berpecah belah). Sebab hancurnya sebuah persatuan yang pernah
ditegakkan, adalah karena perpecahan. Di sini Allah mengingatkan, agar
umat Islam jangan hanya sibuk menggalang persatuan, tetapi di saat yang
sama juga berusaha menjauhi perpecahan. Mengapa? Sebab ternyata dalam
kehidupan sehari-hari begitu banyak organisasi-organisasi umat Islam
yang hanya sibuk mengajak persatuan dalam organisasinya sendiri, tetapi
di saat yang sama menggalang perpecahan dengan organisasi yang lain. Ini
suatu kenyataan yang naif. Sampai kapan kita akan terus sibuk berperang
antar kita sendiri? Sementara orang-orang yang memusuhi Islam bersatu
untuk menghancurkan umat Islam. Sebuah fakta membuktikan bahwa
orang-orang Yahudi yang di luar Israel semuanya bekerja sama untuk
membantu saudara-saudara mereka di Israel. Allah berfirman: “Adapun
orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian
yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang
telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka
bumi dan kerusakan yang besar” (Al-Anfal: 73)
Bersatu Dalam Ikatan Ukhuwah
Bersatu Dalam Ikatan Ukhuwah
Lalu
Allah berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara”. Ini menunjukkan bahwa semangat bersatu mentaati Allah harus
tercermin dalam ikatan ukhuwah yang indah. Sebab persatuan tanpa
ukhuwah pasti akan terus digerogoti permusuhan-permusuhan internal yang
tidak pernah selesai. Perhatikan dalam ayat ini Allah mengingatkan akan
nikmat yang mereka rasakan setelah bersatu dalam ketaatan kepada-Nya, di
mana mereka dulu saling membunuh dan bermusuhan hanya karena membela
kelompoknya masing-masing. Sejarah merekam bahwa antara suku Aus dan
Khazraj –sebelum datangnya Islam- terjadi peperangan berkepanjangan.
Dalam diri mereka menyala kebencian. Orang-orang Yahudi yang ada di sana
memanfaatkan ruh permusuhan ini untuk kepentingan yang mereka inginkan.
Tetapi setelah mereka bersatu dalam ikatan iman dan Islam yang kokoh,
mereka benar-benar bersaudara, bahkan persaudaraan itu lebih indah dari
persaudaraan dalam ikatan darah. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw. setelah mempersaudarakan antara Abdur Rahman (dari
kalangan Muhajirin) dan Saad bin Rabi’ (dari kalangan Anshar), Saad
serta merta menawarkan kepada Abdur Rahman agar mengambil separuh dari
kekayaannya, bahkan lebih dari itu, Saad menawarkan agar menikahi salah
seorang dari kedua istrinya dan ia siap menceraikannya (lihat Shahih
Bukhari Bab ikhaa’ Nabi 1/553).
Dari
sini nampak bahwa ciri utama seseorang setelah beriman dan ber-Islam
adalah bersaudara (baca: ukhuwah). Dalam surat Al-Hujurat ayat 10 Allah
berfirman: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat. Perhatikan kalimat “Sesungguhnya orang-orang
mukmin adalah bersaudara” (innamal mu’minuuna ikhwatun), kata innamaa
menunjukkan makna definitif, artinya setiap orang yang beriman pasti
bersaudara, jika tidak maka imannya dipertanyakan. Dengan demikian iman
berdasarkan ayat tersebut identik dengan persaudaraan. Karenanya dalam
ayat di atas Allah berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan”. Di sini jelas
bahwa pada saat mereka tidak punya iman, permusuhan adalah ciri utama
kehidupan mereka. Sebaliknya setelah iman masuk ke dalam diri mereka,
mereka bersatu dalam persaudaraan.
Lalu
Allah berfirman, “Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu dari padanya”. Ini menunjukkan bahwa ketika
mereka saling bermusuhan, mereka sebenarnya sedang berjalan menuju
neraka. Mengapa, sebab ketika seorang mukmin memusuhi orang mukmin yang
lain, berarti ia telah menghancurkan nilai persaudaraan yang sebenarnya
harus ia capai dengan kualitas keimanannya. Setelah persaudaraannya
hancur otomatis keimanannya pun hancur. Dan ketika imannya hancur
berarti ia telah menyiapkan dirinya jadi bahan bakar neraka. Di sinilah
logika ayat mengapa Allah setelah menggambarkan kondisi mereka dulu di
zaman jahiliah di mana mereka dalam permusuhan, mereka sebenarnya sedang
berada di tepi jurang neraka dan hampir jatuh ke dalamnya. Untungnya
setelah itu mereka beriman, maka dengan iman tersebut mereka lalu
bersatu. Dan karenanya mereka selamat, tidak terjatuh ke dalam neraka.
Perhatikan
betapa yang harus kita capai setelah beriman adalah bagaimana kita
harus bersatu dan bersinergi. Apapun bendera organisasi kita, sepanjang
perbedaan yang ada masih di wilayah fiqih, atau mutaghayyiraat, itu
adalah perbedaan yang tidak akan pernah bisa dihindari. Sebab para
sahabat pun berbeda pendapat dalam hal-hal tertentu yang berkenaan
dengan masalah fiqh dan ijtihad, tetapi mereka tetap bersatu. Jadi ayat
di atas bukan dalil atas haramnya perbedaan pendapat dalam wilayah
fiqih, melainkan ia merupakan dalil atas haramnya perpecahan dan
permusuhan antar umat Islam hanya karena dorongan hawa nafsu dan
fanatisme golongan semata. Dengan kata lain ketika sekelompok umat Islam
memusuhi sekelompok yang lain hanya karena fanatisme golongan, dan
perbedaan fiqih, tidak mustahil dari permusuhan ini akan menghantarkan
pelakunya kepada jurang neraka, seperti yang Allah gambarkan dalam ayat
di atas.
Bersatu Di bawah Naungan Hidayah
Lalu
Allah berfirman, “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu,
agar kamu mendapat petunjuk”. Artinya bahwa ketika suatu kaum
benar-benar bersatu menegakkan ajaran Allah, dan mereka benar-benar
bersaudara di antara mereka, maka mereka telah berada dalam petunjuk
Allah (la’allakum tahtaduun). Jika tidak berarti mereka kembali ke masa
jahiliyah yang penuh permusuhan dan perpecahan. Karenanya maksud
mengikuti hidayah (petunjuk) dalam Islam, itu bukan hanya semata
seseorang menjalani ibadah ritual secara harfiyah, melainkan lebih dari
itu ia harus bersaudara dan membangun persatuan.
Sayangnya,
yang sering kali terjadi di kalangan umat Islam, persatuan selalu
dikorbankan hanya demi perbedaan fiqih dalam ibadah ritual. Ada
sekelompok umat Islam memusuhi sekelompok umat Islam yang lain hanya
karena satunya shalat tarawih sebelas rakaat dan satunya lagi dua puluh
tiga rakaat. Sebagian lagi memusuhi saudaranya hanya karena satunya
berhari raya berdasarkan hisab, dan satunya berhari raya berdasarkan
ru’yah. Padahal masing-masing sama-sama mempunyai dalil yang kuat.
Artinya seandainya masing-masing segera menyadari bahwa itu adalah
wilayah fiqih, lalu mereka bersepakat untuk menentukan sikap yang
membangun persatuan, itu sungguh lebih baik dan lebih tepat secara
syariah. Sebab mempertahankan persatuan adalah wajib, sementara shalat
tarawih atau pun shalat hari raya hanyalah sunnah. Artinya seandainya
mereka tidak shalat tarawih atau tidak shalat hari raya pun tidak
apa-apa, ketimbang mereka malah saling bermusuhan hanya karena masalah
yang sunnah tersebut. Inilah rahasia mengapa Allah menutup ayatnya
dengan kalimat “la’allakum tahtaduun”, sebab hanya dengan mempertahankan
persatuan di atas ajaran Allah, dan menegakkan persaudaraan sesama
iman, seseorang akan merasakan lezatnya hidayah Allah. Wallahu a’lam
untuk materi selanjutnya sahabat bisa klik https://irmasalmaunah3.blogspot.co.id/
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar